Membangun Budaya membaca, menulis Kader IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH BIMA

Jumat, 04 Desember 2015

Determinisme dan Chaos

Determinisme dan Chaos


Muhammad Alifuddin

Teori chaos berkaitan dengan proses alam yang nampaknya kacau atau acak. Satu definisi kamus tentang chaos akan menunjukkan ketidakberaturan, kekacauan, keacakan, atau kebetulan: gerakan acak tanpa tujuan, kegunaan atau prinsip tertentu. Tapi, campur-tangan dari “kebetulan” murni dalam proses material akan mengundang masuknya faktor-faktor yang bukan-fisik, yaitu, metafisik: kehendak, campur tangan ilahi. Karena ia berkaitan dengan kejadian-kejadian yang “kebetulan”, maka ilmu chaos yang baru lahir itu memiliki implikasi-implikasi filsafati yang mendasar.
Proses alami yang pada awalnya dianggap sebagai acak dan kacau kini terbukti tunduk pada hukum-hukum ilmiah, menunjukkan satu basis kausal yang deterministik. Lebih jauh lagi, penemuan ini memiliki penerapan yang demikian luas, kalau tidak dapat disebut universal, sehingga ia telah mendorong satu cabang ilmu yang sama sekali baru - telaah tentang chaos. Ia telah menghasilkan satu cara pandang dan metodologi baru, beberapa orang akan menyebutnya satu revolusi, yang dapat diterapkan pada semua cabang ilmu yang ada sekarang. Ketika satu blok logam menjadi magnet, ia berubah ke dalam “keadaan teratur”, di mana semua partikelnya mengarah ke jurusan yang sama. Ia dapat diarahkan ke satu atau lain jurusan. Secara teoritik, ia “bebas” untuk mengatur dirinya ke jurusan apapun. Namun pada prakteknya tiap potongan kecil logam membuat “keputusan” yang serupa.

Antara Dongeng Dan Mitos

Antara Dongeng Dan Mitos

Penulis: Muh. Alifuddin


Dalam pembabakan kesusatraan, dongeng terbagi dalam legenda, cerita yang sama sekali tak masuk akal; sage, cerita yang terkait unsur sejarah;mitos, cerita yang mungkin terjadi;fabel, cerita yang berkisah tentang dunia binatang;dan hikayat, cerita yang berkisah tentang kepahlawanan. Jadi dalam hal ini mitos adalah bagian dari dongeng. Sebuah dongeng bisa berbentuk mitos ataupun yang lainnya.
Mitos sendiri berasal dari bahasa Yunani muthos, yang secara harfiah diartikan sebagai cerita atau sesuatu yang dikatakan seseorang; dalam pengertian yang lebih luas bisa berarti pernyataan, sebuah cerita atau alur drama. Mitos dalam bahasa inggris menunjuk pada mythology yang berarti studi tentang isi mitos maupun bagian-bagiannya. Sebuah buku yang berjudul Sex, Culture, and Myth hasil tulisan B. Malinowski, membedakan pengertian antara dongeng, legenda dan mitos. Menurut dia, legenda lebih sebagai cerita yang diyakini seolah-olah merupakan kenyataan sejarah, meskipun sang pencerita menggunakannya untuk mendukung kepercayaan-kepercayaan dari komunitasnya. Berkebalikan dengannya, dongeng mengisahkan peristiwa-peristiwa ajaib tanpa dikaitkan dengan suatu ritus tertentu. Dongeng dianggap sebagai sesuatu yang tak pernah benar-benar terjadi. Ia ada karena diadakan dalam pengertian lebih lanjut, hanyalah hasil khayalan dan imajinasi pelarian dari fakta. Atu bisa juga diartikan sebagai, seperti kata Freud, hanyalah suatu puncak dari ketidaksadaran keinginan manusia yang tak pernah terwujudkan. Ia hanya terkait dengan hiburan. Sedangkan mitos merupakan “pernyataan atas suatu kebenaran lebih tinggi dan lebih penting tentang realitas asali, yang masih dimengerti sebagai pola dan fondasi dari kehidupan primitif”.

SPIRITUALITAS PADA MILENIUM III

SPIRITUALITAS PADA MILENIUM III
Penulis: Muhammad Alifuddin

Apa yang menarik ketika disebutkan istilah ruang spiritualitas? Sebuah istilah yang sering digunakan untuk menunjuk entitas non-inderawi, immaterial dan berada pada fakultas mental. Spiritualitas sebagai tradisi memang semakin ramai dipraktekkan dan sebagai wacana sering dibicarakan orang. Mulai dari praktek–praktek magi (spiritism) kelas kampung hingga pada gerakan-gerakan spiritual tingkat dunia semacam New Age, spiritualitas seperti mewabah. Bahkan arti penting spiritualitas ini juga disebut-sebut dalam sebuah buku laris yang berjudul Megatrends 2000. Buku lain yang juga menyebut-nyebut spiritualitas ialah karangan Fritjof Capra yang berjudul: Science, Society, and Rising Culture (1997). Bahkan Capra — secara tidak langsung — berani berspekulasi, bahwa spiritualitas akan menjadi inspirasi penting bagi sebuah proses "titik balik" dalam peradaban baru yang dibayangkannya.   Istilah titik balik itu sangat menarik ketika Capra juga menyebut-nyebut adanya proses holistik dalam memandang realitas alam semesta (ekologi). Dunia dan isinya tidak hanya dilihat secara mekanistik menurut model Cartesian atau Newtonian, tetapi juga melibatkan unsur mistisisme dan pikiran-pikiran yang berasal dari terma agama-agama. Gagasan Capra itu tentu saja tidak aneh. Sebab sejak ribuan tahun yang lalu, entitas spiritual sudah dikenal oleh umat manusia dan menjadi sumber kearifan peradaban di masa lalu.

Dari Kritik Pemikiran Ke Kritik Politik

Dari Kritik Pemikiran

Ke Kritik Politik

Penulis: Muhammad Alifuddin

Hegelian Tua menekankan hanya Yang Nyata sajalah yang rasional. Sesuatu itu benar karena ia nyata. Patokan rasionalitas adalah kebertahanan di dunia nyata. Negara Hukum dan Protestanisme merupakan wujud dari Yang Rasional karena keduanya nyata saat ini dan kedudukannya lebih tinggi dari pencapaian sejarah sebelumnya. Segala bentuk praktek kehidupan nyata yang hendak mengubah atau meruntuhkan keduanya secara moral tidak baik karena menantang Kehendak Rasional yang mewujud itu. Semua harus menyesuaikan diri dengan perwujudan nyata Yang Rasional ini. Sia-sia belaka menentangnya karena Sejarah sudah menentukan pilihannya.
Hegelian Muda menekankan hanya Yang Rasional sajalah yang nyata. Mereka mengkritik kecenderungan Hegelian Tua untuk mengabaikan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan nyata. Di dalam yang nyata tidak jarang didominasi penyimpangan dari patokan rasional dan keyakinan buta yang irasional. Menurut Hegelian Muda, kenyataan menunjukkan adanya ketidakberesan. Kebebasan yang mustinya berlaku dalam Negara Hukum, nyatanya tidak. Negara bersifat represif dan tindakan negara sama sekali bukan cermin kepentingan semua orang. Negara sama sekali bukanlah wujud Kebebasan. Hasilnya adalah keterasingan politik individu-individu. Orang-orang tidak merasakan kepentingannya terwakili dalam perundang-undangan, kebebasannya terkungkung oleh praktik otoriter negara yang pura-pura jadi Negara Hukum.

Kegelisahan dan Makna Keberadaan Kita

Kegelisahan
dan Makna Keberadaan Kita
 


Penulis: Muhammad Alifuddin


Hidup yang tak pernah dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia’. Minggu lalu kita tahu ini pernyataan Socrates. Tapi saya pikir-pikir lagi. Ternyata mempertanyakan hidup kita sama saja dengan mengotak-atik tempat kita berada di dunia ini. Pertanyaan yang biasanya muncul tentang hidup misalnya “dari mana kita berasal dan hendak ke mana kita berada?”, lalu disambung “untuk apa kita hidup?”, atau “apa sih makna hidup kita?”. Ini bukan pertanyaan sepele. Sepanjang sejarah, para filsuf berpusing-pusing ria berusaha menjawabnya; atau paling tidak mencoba menemukan kunci-kunci pembuka gudang jawaban. Bagi sebagian besar orang, pertanyaan seperti ini remeh-temeh belaka. Ini hanya pertanyaan tolol orang iseng yang tak punya kerjaan. Buat apa susah payah menjawab sendiri. Kita bisa copy-paste jawaban itu dari orang-orang bijak, nabi, ulama, pastor, atau para fasilitator yang pandai bicara. Tetapi persoalannya sesekali kita pasti menjadi orang yang tak punya kerjaan. Rutinitas keseharian memang seperti Bulan Ramadhan terhadap Setan yang membelenggu pertanyaan-pertanyaan eksistensial atau pertanyaan-pertanyaan yang menggugat arti hidup kita atau bahkan diri kita sendiri. Dalam perjalanan hidup, kita tidak jarang menemukan diri kita termenung dalam sunyi dan terpaksa membaca pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang berseliweran. Terutama ketika suasana hati tergugah oleh peristiwa yang mengguncang. Guncangan hidup yang kita alami hampir selalu memutus belenggu yang mengikat pertanyaan eksistensial. Mau tidak mau kita dihadapkan pada pertanyaan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial juga biasanya menimbulkan guncangan. Seperti membuka Kotak Pandora, ketika satu pertanyaan coba di tanggapi, maka akan mengalirlah beribu pertanyaan turunannya. Manusia tidak akan sanggup hidup bila terus-menerus menanyakan keberadaannya. Inilah yang oleh psikolog dinamai sebagai krisis hidup. Dalam krisis inilah bisa terjadi perubahan-perubahan radikal dalam diri kita. Perubahan itu bisa bermacam bentuknya. Tetapi yang penting adalah ‘Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita jawab? Bagaimana menjawabnya?‘

Evolusi Teori Propaganda

Evolusi Teori Propaganda
Penulis: Muhammad Alifuddin

Jejak arkeologis dari peradaban kuno telah memperlihatkan peninggalan berharga seperti baju, istana, patung dan berbagai catatan tertulis. Sejumlah peninggalan tertulis seperti Analects karya Kong Hu Cu merupakan  ringkasan prestasi penguasa yang digunakan untuk memobilisasi dukungan rakyat. Prestasi penguasa itu dipaparkan secara berlebihan sehingga muncul mitos dan berbagai kepercayaan di kalangan massa akan kehebatan dan keperkasaan para penguasa.
Kepercayaan yang hidup dalam masyarakat yang berasal dari kitab-kitab peninggalan lama menunjukkan teknik propaganda telah lama dipakai dalam berbagai peradaban. Penguasa merasa berkepentingan untuk membangun citra dirinya dihadapan rakyatnya. Bila citra agung telah ditetapkan dalam berbagai catatan yang boleh diketahui rakyat maka penghormatan dan otoritasnya dipercaya akan menguat.
Dalam berbagai penemuan sejarawan, terbukti bahwa tidak semua penguasa peradaban lama bebas dari bentuk-bentuk sifat jahat dan otoriter. Sifat diktatorial sering muncul dalam diri penguasa lama meskipun telah digambarkan sebagai penguasa yang adil dan jujur. Kontras antara sifat penguasa yang ternyata kejam dengan gambaran tertulis bahwa penguasa itu adil merupakan sebuah bukti bahwa para penguasa lama dan demikian juga terlihat dari penguasa modern ingin dilukiskan sebagai raja atau penguasa yang baik.

Filsafat Tanpa Kedaulatan Semantik

Filsafat Tanpa Kedaulatan Semantik
Penulis: Muhammad Alifuddin

FRANKY Budi Hardiman menggebrak dunia filsafat republik ini dengan bukunya berjudul Filsafat Fragmentaris. Buku tersebut berisikan tesis bahwa filsafat tak pernah menangkap totalitas melainkan fragmen-fragmen dari semesta kemungkinan. Di balik itu terselip tuduhan bahwa filsafat memiliki kegandrungan yang sesat akan totalitas.
Totalitas adalah inspirasi teologis yang menyusup diam-diam ke dalam filsafat. Bahwa manusia pertama diajarkan Tuhan nama benda-benda sehingga tak ada yang lolos dari kuasa semantiknya. Plato pun mengambil ajaran sufisme kuno Yunani (Orphisme) yang memandang jiwa terpenjara dalam tubuh. Karena itu, aspirasi pada totalitas selalu direcoki oleh desakan-desakan badani. Demi totalitas, Plato mengumumkan perang terhadap tubuh yang memenjara kita di dunia bayang-bayang.
Terlepas dari susupan teologis ke dalam filsafat, kegandrungan terhadap totalitas itu sendiri adalah patologis. Kegandrungan itu adalah delusi yang tak pernah diperiksa sungguh-sungguh. Delusi itu lolos dari pemeriksaan filsafat sebab kegandrungan akan totalitas mengalahkan kemauan para filsuf untuk melakukan refleksi diri.